MODJO'X.COM

Your description goes here

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

Hello world!
Righteous Kill
Quisque sed felis

About Me

About Me

Popular Posts

Thumbnail Recent Post

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...


Pagi kembali menyambut, saat mentari masih bersembunyi malu di balik bukit tampak seorang gadis berambut panjang duduk di atas hijaunya padang rumput. Nama gadis itu adalah Amy Achmad, seorang gadis dengan seribu pesona yang ada padanya. Selain cantik Amy memiliki prestasi yang sangat membanggakan di sekolahnya. Dan satu hal lagi, Amy mempunyai suatu kegemaran yaitu memainkan biola. Di tengah segar udara pagi Amy Achmad dengan lembut memainkan biola di tangannya. Maka terdengarlah alunan merdu mengiringi kicau burung yang terbang dengan riangnya menyambut hari. Di saat Amy sedang asyik dengan biolanya, tiba-tiba terdengar seoarang lelaki memanggil namanya dari dalam rumah.

“Amy, dimana kamu?” teriak ayah Amy dari dalam rumah.

Mendengar panggilan itu Amy Achmad langsung menghentikan permainan biolanya dan menyembunyikannya di balik semak. Setelah menyembunyikan biola kesayangannya itu ia langsung berlari menuju rumah.

“Ya Ayah ! Amy disini,“ jawab Amy dengan nafas terengah – engah.

“Dari mana saja kamu, bukankah kau seharusnya sudah harus bersiap untuk ke sekolah?” tanya ayah Amy dengan tegas.

“Amy habis dari …………” belum sempat melanjutkan kalimatnya ayah Amy sudah memotongnya.

“Bermain dengan benda tak berguna itu lagi? “ bentakan ayahnya membuat Amy hanya menundukkan kepalanya dan meneteskan air mata.

“Mengapa kamu selalu menghabiskan waktumu bersama barang rongsokan itu, bukankah lebih baik untukmu untuk belajar lebih keras supaya kelak kamu bisa menjadi dokter seperti ibumu dulu!“ bentak ayah Amy padanya. Ayah Amy sangat membenci biola karena ibu Amy meninggal saat pergi membelikan biola untuk Amy.

“Benda itu punya nama, Yah. Benda itu pula yang membuatku tetap merasa hidup. Dan satu lagi, Ibu sudah meninggal dan aku tidak bisa menjadi dirinya. Aku punya jalan sendiri,“ kata-kata tersebut muncul begitu saja dari bibir Amy.

“Terserah, Ayah tidak mau lagi mendengarmu memainkan benda itu. “

Tanpa mengucap sepatah kata pun Amy langsung berlari menuju kamarnya dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.

Setelah itu Amy berangkat ke sekolahnya. Dengan perasaan sedih dia melangkahkan kakinya menyusuri jalan kecil dengan pohon-pohon yang berjajar di kanan kirinya itu. Saat Amy berjalan sendiri tiba–tiba seorang pria menghampirinya.

“Selamat pagi Nona manis, bagaimana kabarmu hari ini?” sapa pria tampan yang bernama Andi itu. Andi adalah kekasih Amy yang selalu mendampingi Amy di saat senang maupun sedih. Namun ayah Amy tidak menyetujui hubungan mereka karena Andi adalah anak yatim piatu.

Mendengar perkataan kekasihnya Amy tidak mengucap sepatah kata pun. Namun air matalah yang keluar menyambut sapaan kekasihnya itu yang membuat Andi merasa kebingungan.

“Apa yang telah terjadi padamu Amy?“ tanya Andi cemas.

“Aku tidak kuat Andi, aku tak sanggup menjalani semua ini,“ ucap Amy.

“Tenanglah Amy, aku akan selalu ada untukmu. Kau bisa menceritakan semuanya kepadaku,“ kata Andi lembut.

Amy menceritakan semua yang dialaminya pada Andi. Andilah yang selama ini selalu ada dan mencintai Amy dengan tulus. Dia juga selalu mendukung kekasihnya itu dengan sepenuh hatinya. Tidak lama kemudian Andi berhasil menenangkan hati Amy dan mereka berdua melanjutkan perjalanan ke sekolah berdua.

Waktu pun berlalu dengan cepat. Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Andi mengantar Amy pulang ke rumahnya. Mereka berjalan berdua di bawah terik matahari. Tanpa mereka sadari mereka telah sampai di depan rumah Amy.

“Sudah sampai ya? Ya sudah deh aku pulang dulu,” ucap Andi.

“Kamu gak mampir dulu?” tanya Amy pada Andi.

“Gak ah! Aku langsung pulang aja,” jawab Andi.

Andi pun pulang ke rumahnya. Sementara Amy masuk ke dalam rumahnya, di dalam rumah Amy terkejut karena ia melihat ayahnya sudah berada di dalam rumah. Tidak biasanya pada jam seperti ini ayah Amy sudah pulang dari kantornya.

“A….Ayah? Ayah kok sudah pulang, inikan baru jam 3?” tanya Amy dengan perasaan takut.

“Kenapa, kamu takut Ayah melihatmu bersama pemuda miskin tanpa masa depan itu? Sudah berapa kali Ayah bilang kepadamu untuk menjauhinya!?” bentak ayah Amy dengan keras.

“Kenapa Ayah selalu memandang semua hal dari harta, Andi tulus mencintai Amy. Walaupun dia miskin namun dia selalu menjaga Amy,” jawab Amy.

Karena merasa sangat terpukul Amy langsung berlari menuju kamarnya. Di dalam kamar dia menangis memikirikan kepedihan pada dirinya. Setelah beberapa menit Amy menangis, Amy menghubungi Andi dan mengajaknya bertemu.

“Halo, Andi?” Amy berbicara di telepon sambil meneteskan air matanya.

“Iya, ada apa Amy?” jawab Andi penuh kebingungan mendengar suara Amy yang parau.

“Temui aku sore ini di taman. Aku sangat memerlukanmu,” kata Amy dengan lembut dan singkat.

“Baiklah Reva, aku pasti akan datang,” ucap Andi.

Tanpa mengucapkan kata-kata Amy langsung menutup teleponnya. Sementara Andi hanya bisa menunggu. Andi tidak mungkin menemui Amy di rumahnya karena ayah Amy sangat membencinya dan Amy pasti ikut terkena imbasnya.

Sore yang ditunggu akhirnya tiba. Tampak di sebuah kursi kayu tua Amy duduk sendiri menunggu kedatangan Andi. Di tangannya dipegangnya sebuah biola yang siap mengalunkan sebuah lagu. Satu jam sudah Amy menunggu kekasihnya namun Andi belum juga tiba. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Andi tetapi tidak ada jawaban.

“Andi kamu dimana?” tanya Amy. “Apa yang terjadi sama kamu?” lanjutnya.

Dengan sabar Amy masih menunggu Andi. Tidak lama kemudian titik-titik air mulai menetes di atas kepa Amy. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya membasahi seluruh tubuh Amy.

“Aku akan menunggumu di sini Andi, dan aku gak akan memainkan biola ini sebelum kamu datang menemui aku!” teriak Amy di tengah hujan.

Hingga malam tiba Amy masih menunggu Andi. Dingin mulai menusuk tubuh kecil Amy yang tengah mengigil itu, hingga akhirnya tubuh Amy tak mampu lagi bertahan. Pandangannya menjadi gelap dan akhirnya Amy jatuh terbaring di atas tanah.

Perlahan-lahan Amy membuka matanya, sedikit demi sedikit pandangan Amy menjadi jelas. Dilihatnya di sekitarnya teman-temannya berdiri dengan tatapan cemas dan di sebuah pojok ruangan berdiri ayah Amy.

“Di mana aku? Dan di mana Andi, kok aku gak melihat dia?” ucap Amy perlahan. Namun bukannya menjawab teman-teman Amy hanya diam membisu dengan menampakkan raut kesedihan di wajah mereka.

“Kamu di rumah sakit, kemarin kami menemukanmu pingsan di taman,” kata salah seorang teman Amy.

“Tapi dimana Andi, kenapa ia tidak datang? Padahal dia sudah berjanji akan datang menemui aku.”

Mendengar perkataan Amy suasana ruangan itu menjadi sunyi. Karena tidak ada jawaban Amy terus mendesak hingga akhirnya salah seorang dari mereka menjawabnya.

“Begini Amy, kemarin Andi mengalami kecelakaan dalam sebuah perjalanan. Dokter sudah berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkannya tetapi itu semua sia-sia.” Mendengar penjelasan dari temannya itu tubuh Amy menjadi lemas.

“Gak, gak mungkin. Kalian semua bohong. Andi sudah berjanji padaku bahwa dia akan selalu ada bersamaku dan gak akan pernah meninggalkan aku!” teriak Amy dengan penuh kemarahan.

Tiba-tiba Amy bangun dari tempat tidurnya dan mencoba berlari untuak menemui Andi. Namun belum semapat keluar dari kamar rumah sakit Amy terjatuh. Segera teman-teman dan ayah Amy datang untuk membantunya dan menenangkannya.

“Kenapa, kenapa ini semua harus terjadi padaku? Ini semua salahku. Andai hari itu aku tidak mengajak Andi untuk bertemu aku, pasti semua ini gak akan terjadi.” Amy menangis dan terduduk di lantai rumah sakit yang dingin itu.

“Sudahlah Nak, ini semua bukan salahmu. Ikhlaskan saja dia pergi, masih ada banyak cinta untukmu,” kata ayah Amy seraya mengelus rambut Amy.

“Ayah senang kan dengan semua ini? Pasti dalam hati Ayah sedang tertawa terbahak-bahak,” kata Amy kepada ayahnya. Amypun kembali bangkit dan mencoba untuk keluar dari kamar rumah sakit itu. Akan tetapi sekali lagi Amy terjatuh dan teman-teman Amy kembali menolongnya, namun kali ini ayah Amy hanya diam saja melihat anaknya itu tanpa bisa berbuat apa-apa.

Satu hari telah berlalu, namun kesedihan masih tampak pada wajah Amy. Kenangan manisnya bersama Andi selama ini tidak bisa ia hapus dengan mudah. Setiap hari yang ia lakukan hanya menangis sambil memandang foto Andi. Karena teman-temannya merasa kasihan akhirnya mereka mengantar Amy ke tempat dimana Andi dimakamkan.

Sesampainya di tempat pemakaman pandangan Amy langsung tertuju pada sebuah makam yang bertuliskan Andi. Amy pun lalu duduk di samping makam Andi sambil menangis mengenang seorang yang selama ini selalu mendampinginya. Setelah beberapa saat teman-teman Amy mengajak Amy untuk pulang ke rumah. Kali ini Amy hanya menurut permintaan teman-temannya itu.

Sebulan telah berlalu. Bukannya semakin membaik kondisi Amy justru bertambah buruk. Sekarang Amy menjadi seorang gadis pendiam. Yang ia lakukan hanya mengurung diri di kamarnya. Begitu banyak temannya yang mencoba menghiburnya namun tidak ada yang berhasil. Penyesalan itu selalu datang menghantuinya.

Prestasinya di sekolahpun semakin memburuk. Bahkan yang lebih parah Amy menjadi sangat benci dengan biola yang selama ini sudah ia anggap seperti temannya karena ia berpikir bahwa biola tersebut juga ikut menyebabkan Andi meninggal. Melihat keadaan anaknya yang seperti itu ayah Amy memutuskan untuk mengirim Amy sekolah di Bali.

“Amy, Ayah mau berbicara denganmu dan kali ini Ayah harap kamu akan menuruti semua perkataan Ayah,” perintahnya kepada Amy.

“Demi masa depan kamu Ayah memutuskan untuk menyekolahkanmu di Bali,” kata ayah Amy tegas.

“Apa Ayah sadar berbicara seperti itu? Aku gak mungkin meninggalkan Andi sendirian di sana. Aku akan selalu menjaganya,” balas Amy dengan penuh keyakinan.

“Kali ini kamu tidak bisa menolak permintaan Ayah. Semua ini Ayah lakukan demi kebaikanmu juga. Kamu tidak mungkin selamanya hidup dalam kesedihanmu sendiri,” bentak ayah Amy yang kembali. Namun kali ini Amy tidak menjawab perkataan ayahnya itu.

Akhirnya Amy bersiap berangkat ke Bali dengan perasaan sedih. Amy masih belum siap untuk meninggalkan semua kenangannya bersama Andi walaupun sepenuhnya ia sadar bahwa Andi memang sudah meninggal.

Akhirnya Amy tiba di Bali dengan selamat. Di Bali Amy bersekolah di sebuah sekolah internasional dan tinggal di asrama sekolah itu. Walaupun sudah berada di tempat yang baru, namun Amy belum juga dapat melupakan Andi.

Di suatu sore Amy pergi jalan-jalan untuk menghilangkan kesedihannya. Amy hanya berjalan sendirian karena belum mendapat teman di sekolah barunya. Di tengah perjalanannya Amy melewati sebuah jembatan dan tiba-tiba dia berpikir untuk bunuh diri dengan cara melompat dari atas jembatan. Amy pun naik ke atas jembatan itu, beberapa saat kemudian dia bersiap untuk melompat dari jembatan. Tetapi tubuh Amy ditarik oleh seorang gadis dan dia jatuh kembali ke atas tanah.

“Kamu sudah gila ya?” kata gadis itu dengan penuh ketakutan. “Kamu kan bisa mati, apa kehidupan ini sudah begitu buruknya untukmu?” lanjut gadis cantik itu.

“Sudahlah, masih banyak yang bisa kamu lakukan di dunia ini. Tanpa kamu sadari sesungguhnya masih banyak orang yang menyayangi dan membutuhkanmu,” ucap gadis itu sambil mencoba membangunkan Amy.

“Lepaskan aku, aku hanya ingin mati. Apa kau tahu penderitaan yang aku alami, apa kau merasakan rasa yang kini ada di hatiku? Kau tidak tahu apa-apa,” bentak Amy sambil mengibaskan tangan gadis itu dari bahunya.

“Plaaak!”

Gadis itu menampar Amy hingga membuat Amy terdiam.

“Aku memang tidak tahu apa yang sedang kau rasakan dan apa yang telah kau alami. Namun satu hal yang pasti kematian itu tidak akan menyelesaikan semua masalah yang sedang kau hadapi.”

Mendengar perkataan gadis itu pandangan Amy yang tadinya tajam kini telah berubah menjadi sayu. Setelah itu keduanya berkenalan. Gadis itu ternyata bernama Gladis. Seorang gadis Bali yang kebetulan adalah teman satu sekolah Amy. Setelah berhasil menenangkan Amy, Gladis mengajak Amy untuk kembali ke asrama sekolah mereka. Dan semenjak saat itu keduanya menjadi sahabat.

Suatu hari Gladis mengajak Amy pergi berjalan-jalan. Amy menurut saja ajakan Gladis itu. Setelah beberapa saat mereka berjalan sampailah keduanya di sebuah toko musik.

“Selamat datang di sini Amy, setelah mendengar semua ceritamu aku rasa ini tempat yang sangat cocok untukmu,” kata Gladis dengan senyum lebar terukir di wajahnya.

“Apa maksudmu Gladis?” jawab Amy dengan penuh keheranan.

“Di sini kamu bisa memainkan biola dan mengekspresikan perasaanmu,” balas Gladis sambil menyodorkan sebuah biola kepada Amy.

Mendengar perkataan Gladis, Amy kembali teringat akan masa lalunya. Namun kali ini Amy tidak menangis seperti biasanya. Kini Amy sudah menjadi lebih kuat berkat dukungan Gladis.

“Gak ah, aku tidak mau.” Hanya kata itu yang terucap dari bibir kecilnya.

“Lho kenapa? bukankah kamu sangat senang bermain biola?” tampak Gladis meyakinkan Amy.

Bukannya menjawab Amy keluar begitu saja dari toko musik itu. Melihat kejadian itu Gladis merasa tidak enak, maka dengan segera ia menyusul Amy. Setelah berhasil menyusul langkah Amy, Gladis mengajaknya pulang ke asrama. Sesampainya di asrama Gladis mengantar Amy ke dalam kamarnya.

“Va, maafin aku ya! bukan maksud aku membuatmu sedih,” kata Gladis pelan.

“Gak apa-apa kok, aku gak sedih hanya saja aku sudah berjanji gak akan memainkan biola lagi, aku takut Andi akan marah padaku,” balas Amy.

“Aku yakin Andi gak akan marah. Dia pasti menginginkan yang terbaik bagimu dan dia juga pasti akan senang melihatmu memainkan biola itu lagi,” ucap Gladis sambil memegang kedua tangan Amy.

Setelah beberapa saat mereka berbicara akhirnya Gladis memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Karena tidak ingin merasakan kesedihan kembali maka Amy memutuskan untuk tidur.

Pada suatu pagi, Amy berjalan sendirian di tengah-tengah padang rumput yang masih basah oleh tetes-tetes embun. Sementara dingin kabut masih menyelimuti tubuhnya yang kecil itu. Di tengan kesendiriannya itu dilihatnya sesosok laki-laki berdiri dengan memakai pakaian putih yang tidak asing lagi baginya. Laki-laki itu adalah Andi.

“Gak mungkin, ini gak mungkin terjadi,” pikirnya dalam hati.

Tiba-tiba laki-laki itu membalikkan badannya dan benar apa yang dipikirkan Amy. Andi kini berdiri tepat dihadapannya. Amy yang hanya bisa diam tidak percaya akan semua yang dialaminya itu. Tanpa mengucap sepatah kata pun Andi menyodorkan sebuah biola kepada Amy.

“Yang terbaik bagimu takkan kubiarkan begitu saja pergi meninggalkanmu,” ucap Andi sambil tersenyum kecil kepada Amy.

Setelah memberikan biola tersebut Andi langsung pergi begitu saja tanpa sepatah katapun. Amy ingin mengejarnya namun apa daya langkah Andi terasa sangat cepat dan Amy seolah-olah hanya berlari di tempat. Karena merasa tidak berdaya akhirnya Amy berteriak sekeras-kerasnya.

“Andiiiii, tunggu…., Andiiiiiii….!” Amy terus beteriak memanggil nama Andi hingga sebuah suara datang menghampirinya.

“Amy bangun, bangun.” Ternyata suara itu adalah Gladis yang sedang membangunkan Amy dari tidurnya. “Va ada apa? “ ucap Gladis.

“Andi Dis, tadi aku bertemu Andi!” katanya dengan semangat. “Dia bahkan memberikan kepadaku sebuah biola!” lanjutnya.

Seolah tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Amy, Gladis diam sejenak tanpa memberikan komentar apapun kepada Amy. Lalu Gladis tiba-tiba keluar dari kamar Amy dan tidak lama kemudian kembali lagi dengan membawa sebuah biola di tangannya. Amy yang melihat hal tersebut langsung mengerutkan dahi. Ternyata biola yang dibawa Gladis tersebut adalah biola yang diberikan Andi kepada Amy di dalam mimpinya.

“Kalau memang benar ini adalah biola yang kamu maksud, aku yakin Andi pasti ingin kamu kembali memainkan biola ini seperti dahulu kembali,” jawab Gladis.

Semenjak kejadian tersebut kini kehidupan Amy kembali seperti dulu. Amy kembali menjelma menjadi seorang gadis periang yang selalu menebarkan kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya. Dan yang terpenting yaitu kini Amy kembali menyayangi biola yang telah lama ia tinggalkan itu. Dan pada suatu sore Amy mengajak Gladis pergi ke teman yang ada di dekat asrama mereka.

“Dulu Andi aku ajak bertemu di sebuah taman untuk mendengarkan alunan biolaku, dan sekarang aku akan mewujudkan semua itu,” ucap Amy dengan semangat.

“Baiklah aku akan siap mendengarkan alunan indah biolamu,” kata Gladis yang sudah duduk di atas hijaunya rumput taman itu.

Amy pun memainkan biolanya dengan sangat indah. Orang-orang yang melewati taman itu langsung terhenti dan melihatnya. Mereka semua tercengang mendengar nada-nada yang keluar dari gesekan dawai biola tersebut. Namun di tengah-tengah keindahan suasana tersebut tiba-tiba Amy jatuh pingsan. Orang-orang yang melihat kejadian tersebut langsung mengerumuni Amy, tidak terkecuali Gladis.

“My, ada apa denganmu? Seseorang tolong panggilkan ambulan!” teriak Gladis di tengah-tengah kerumunan orang-orang.

Akhirnya Amy dibawa ke rumah sakit, setelah dokter memeriksanya ternyata Amy mengidap kanker otak dan usia Amy tidak panjang lagi. Mendengar hal tersebut keduanya bagai disambar petir. Gladis hanya bisa memeluk Amy yang terdiam seolah tidak percaya akan apa yang telah didengarnya.

“Dis, aku harap kamu tidak mengatakan semua ini kepada siapapun juga, bahkan kepada ayahku,” ucap Amy pelan.

“Tapi, Ayahmu harus tahu semua ini my!” balas Gladis sambil menangis.

“Please Dis, berjanjilah padaku. Kali ini saja kumohon!”

Akhirnya Gladis hanya bisa mengiyakan perkataan sahabatnya itu. Walaupun sebenarnya Gladis merasa kasihan kepada Amy.

Hari-hari berlalu, kondisi Amy menjadi semakin parah. Ia sering pingsan dan mengalami rasa sakit yang luar biasa. Karena merasa kasihan akhirnya Gladis memutuskan untuk pergi menemui ayah Amy dan menceritakan apa yang telah terjadi.

“Selamat siang, apa benar ini rumah Bapak Hendrawan?” tanya Gladis pada ayah Amy.

“Iya saya sendiri, silakan masuk.” Ayah Amy mempersilahkan Gladis untuk masuk ke dalam rumahnya.

Setelah memasuki rumah dan memperkenalkan dirinya, Gladis pun menceritakan semuanya pada ayah Amy. Tentu saja ayah Amy tidak begitu saja percaya akan perkataan gadis yang baru dikenalnya itu. Namun setelah beberapa kali mencoba akhirnya ayah Amy percaya juga.

“Tapi kenapa Amy tidak pernah memberitahuku? Apa dia sudah tidak menganggapku lagi sebagai ayahnya, Apakah dia sudah tidak menyayangiku lagi?”

“Justru sebaliknya, Amy sangat menyayangi Anda dan sangat menghormati Anda. Sebelumnya maaf kalau saya ikut campur namun saya rasa Andalah yang terlalu memaksakan keinginan Anda kepada Amy,” kata Gladis kepada ayah Amy.

Setelah keduanya berbicara panjang lebar akhirnya mereka memutuskan untuk segera kembali ke Bali. Mereka berdua langsung berangkat karena segera ingin bertemu dengan Amy. Sesampainya di Bali keduanya langsung mendatangi asrama Amy dan menuju kamarnya. Namun di dalam kamarnya ternyata Amy tidak ada, keduanya langsung berlari keluar kamar tersebut dan mencari Amy di seluruh penjuru sekolah asrama itu dan meneruskan pencariannya di luar asrama. Berjam-jam mereka mencari dan tidak membuahkan hasil hingga mereka melihat sekelompok orang berdiri di sebuah pantai sedang mengerumuni seorang gadis yang sedang bermain biola.

“Itu pasti Amy, aku yakin itu!” kata Gladis pada ayah Amy sambil menunjuk keramaian itu.

“Benar, itu Amy ayo kita segara menuju ke sana!” ajak ayah Amy.

Mereka berdua segera berlari menuju keramaian tersebut, dilihatnya orang-orang yang terdiam memandang Amy yang sedang memainkan biolanya. Dari wajah mereka terpancar kesedihan yang sangat mendalam. Karena terbawa oleh suasanya yang seperti itu ayah Amy menitihkan air matanya. Setelah selesai memainkan biolanya tiba-tiba Amy jatuh di atas pasir yang putih. Melihat hal tersebut ayah Amy langsung berlari mendatangi anaknya.

“Yah, maafkan Amy. Amy tidak bisa menjadi apa yang Ayah harapkan,” ucap Amy yang bersandar di pangkuan ayahnya.

“Kamu tidak perlu meminta maaf, Ayahlah yang salah terlalu memaksakan kehendak Ayah,” kata Ayah Amy dengan air mata masih mengaliri pipinya.

“Yah, Ayah mau menggendong Amy? Amy ingin berjalan-jalan di pantai ini Yah!” pinta Amy pada Ayahnya.

Tanpa menunggu lagi ayah Reva langsung menggendong Amya di punggungnya diajaknya anaknya itu jalan-jalan menyusuri pantai dengan diiringi matahari yang sudah hampir tenggelam ditelan cakrawala. Sementara Gladis hanya mengikuti keduanya dari belakang.

“Dulu ketika Ibumu masih hidup dia sangat senang bermain di pantai bersamamu, apakah kamu masih ingat saat kita bertamasya bersama dan kamu sembunyi sehingga membuat kami semua kebingungan?” tanya ayah Amy.

Tidak ada jawaban yang terucap dari Amy. Dia hanya diam dan membisu. Ayah Amy baru menyadari kalau anaknya sudah meninggal. Namun dengan langkah berat dia tetap menggendong Amy sambil menceritakan kenangan masa kecil Amy yang penuh keceriaan sambil meneteskan air matanya pada butiran pasir yang terhampar. Gladis juga menyadari kejadian itu dan hanya menangis di belakang keduanya. Kini gadis itu telah pergi untuk selamanya. Dia meninggalkan sejuta kenangan untuk orang-orang di sekitarnya. Akhirnya Amy dimakamkan di sebelah makam Andi. Di atas makam itu diletakkan biola kesayangan Amy. Dan kini cinta antara Amy, Andi dan biolanya kembali menyatu.